Ayou Isi Data

Tri Hita Karana (Makalah Lingkungan)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Gambaran tentang kondisi dimasa yang datang bahwa keberadaan sumber daya air, tanah dan lahan menjadi semakin terbatas, yang berarti menurunya daya dukung lingkungan sebagai akibat daripada semakin bertambahnya penduduk, pergeseran pola hidup dan dampak dari kegiatan pembangunan. Adanya fenomena yang menunjukan bahwa upaya manusia memanfaatkan sumber daya dengan mengekspoitir dan memanfaatkan sumber daya dengan cara yang tidak bijaksana, menyebabkan kondisi sumber daya menjadi rawan dan menjadi ancaman bagi kehidupan manusia, misalnya banjir, tanah longsor, erosi, polusi dan sebagainya, (Soemarwoto, 1989, Dinas PU Bali, 2000). Oleh karena itu keberadaan sumber daya manusia menjadi penentu terhadap kondisi lingkungan hidupnya, baik secara individu maupun secara kolektif melalui suatu sistem kelembagaan seperti Desa Adat. Untuk itulah perlu adanya tuntutan tentang kesimbangan hidup syang disebut Tri Hita Karana. Ajaran ini begitu terkenal di Indonesia, khususnya bagi umat Hindu di Bali. Dan konsepnya pun begitu ideal.
Dalam ajaran Tri Hita Karana yang artinya tiga penyebab kebahagiaan. Menurut Wiana (2004) bahwa hakekat Tri Hita Karana adalah sikap hidup yang seimbang antara memuja Tuha dengan mengabdi pada sesama manusia serta mengembangkan kasih sayang pada alam lingkungan. Ajaran tentang kesimbangan hidup sangat penting artinya dalam kehidupan manusia, baik untuk menata kehidupan sekarang maupun untuk menata kehidupan yang akan datang. Ajaran keseimbangan hidup menuntun manusia agar memperoleh kehidupan yang aman, damai dan sejahtera.
Putu Setia dalam uraiannya tentag Tri Hita Karana pada majalh Raditya (edisi Desember 2006). Dijelaskan bahwa umat Hindu sudah melaksanakan ajaran Tri Hita Karana, tetapi apa yang telah dilaksanakan belum sesuai benar dengan konsepnya. Atau sudah melaksanakan tetapi hanya sebagian kecil saja, sementara yang dilanggar justru lebih banyak. Pelanggaran yang paling parah adalah pada unsur palemahannya yaitu yang menyangkut hubungan manusa dengan alam lingkungannya.
Namun demikian, degradasi hutan, tanah dan air, dimana perusakan hutan secara Nasional masih terus terjadi, begitu juga pulau Bali dan khususnya Kabupaten Karangasem belum mampu mencapai luas hutan iedal yaitu 30% dari luas daratan. Walaupun demikian ternyata masih ada desa adat Bali khususnya di Kabupaten Karangasem yang berhasil melestarikan hutan dan lingkungannya dengan aturan-aturan adat yang dimiliki yang dilandasi dengan falsafah Tri Hita Karana. Desa Adat yang dimaksud adalah Desa Adat Purwa Ayu, Desa Tri Buana, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Mereka telah mampu mempertahankan lingkungan sehingga tetap terjaga dari kerusakan, untuk diwariskan secara utuh kepada generasi penerusnya.
Desa Adat Purwa Ayu yang terletak di kawasan Gunung Seraya, bagian Bukit Bisbis tepatnya di kaki Pura Lempuyang, dimana kawasan ini berdiri kokoh Pura Lempuyang yang merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali. Desa Adat Purwa Ayu merupakan salah satu Desa Adat yang berprestasi di bidang pengelolaan lngkungan. Salah satu prestasi telah dimiliki adalah sebagai juara pertama Desa Sadar Lingkungan (DSL) se-Kabupaten Karangasem tahun 2007. Ada hal yang menarik yang telah diterapkan oleh Desa Adat Purwa Ayu yaitu Desa Adat ini, sudah mampu memilah-milah sampah organik dan anorganik. Melalui perumahan desa, keputusan mengumpulkan sampah plastik pada saat paruman desa merupakan suatu hal yang sangat dihargai. Seperti kita ketahui bahwa sampah plastik sangat sulit untuk terurai oleh bakteri di dalam tanah dan dapat merusak kesuburan tanah.
Kondisi hutan yang masih lestari, sebagai penyangga lingkungan di kawasan Pura Lempuyang sangat terjaga kelestariannya. Hal ini disebabkan karena masyarakat telah mampu menjaga kawasan hutannya dan melaksankan aturan-aturan adat berupa awig-awig desa adat dengan bijaksana, dimana sangsi adat betul-betul dilaksanakan dan sangat dipatuhi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pelestarian lingkungan hidup dengan penerapan Tri Hita Karana oleh masyarakat. Adat Purwa Ayu, maka perlu dilakukan penelitian. Hal ini juga untuk menambah keragaman hasil kajian mengenai kehidupan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.
1.2       Rumusan Masalah
Penelitian ini akan membahas, mengungkapkan dan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan Pengelolan Lingkungan Hidup dalam Implementasi Tri Hita Karana,  maka rumusan masalah yang akan dikemukan pada penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana Implementasi Tri Hita Karana dalam pengelolaan lingkungan hidup di Desa Adat Purwa Ayu ?

1.3              Tujuan Penelitian
Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup dan Implementasi Tri Hita Karana yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Adat Purwa Ayu, antara lain :
1.      Untuk mengetahui dan menyikapi Implementasi Tri Hita Karana dalam pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan masyarakat sebagi anggota  Desa Adat.
2.      Untuk mengetahui dan mengkaji dampak Implementasi Tri Hita Karana  dalam pengelolaan lingkungan hidup.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Pengelolaan Lingkungan
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pada Bab I disebutkan bahwa yang maksud lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, makhuk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Disamping itu, dijelaskan pula tentang pencemaran lingkungan hidup yakni masuknya atau dimaksudkannya mahluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkunga hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
                        Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan atas tanggung jawab, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan masyarakat dalam hal ini masyarakat Purwa Ayu yang beriman dan bertaqwa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, seperti yang telah diatur dalam Regveda IV.26.2 yang berbunyi:
                                    Aham bhumimadadamaryayaha
Vrstim dasuse martyaya
Ahamapo anayam vavssana mama
Devaso amu ketamayan
            Artinya :
            Aku memberikan bumi kepada orang-orang baik dan hujan serta udara untuk umat manusia, wahai para bijaksana, datanglah kepadaKu dengan keinginan yang penuh.
                        Menyadari hal tersebut masyarakat Desa Adat Purwa ayu seperti yang telah dikemukakan oleh Bendesa Adat  mereka bahwa kami sangat percaya sekali dengan hukum karma. Menyadari hal tersebut maka dalam penataan lingkungan desa kami melalui perumahan desa kami bertekad untuk melestarikan lingkungan wilayah kami, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan desa dan melestarikan kawasan hutan Bukit Bisbis.
2.2              Pengelolan Hutan
Bentuk-bentuk pengelolaan lingkungan hidup yang lainnya yang telah dilakukan adalah penyelamatan kawasan hutan Bukit Lempuyang dan lahan-lahan masyarakat. Menyadari bahwa kawasan hutan Bukit Lempuyang di wilayahi oleh empat desa adat dan desa dinas maka bendesa adat Purwa Ayu mengajak keempat desa tersebut untuk membuat kesepakatan bersama memelihara dan menjaga kelestarian hutan Bukit Bisbis. Hasil kesepakatan itu berbunyi “masyarakat yang mewilayahi hutan Bukit Bisbis dilarang membuang dan mencari makanan ternak serta berburu, dan apalagi ada masyarakat dari keempat wilayah tersebut melanggar, sepakat diberikan sangsi adat yang diatur dimasing-masing desa adat  dalam bentuk perarem (aturan adat). Hal hasilnya, hutan Bukit Bisbis mejadi hutan hijau dan lestari.
Disamping itu Desa Adat Purwa Ayu melalukan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, dengan mengembangkan hutan-hutan rakyat. Ini dilakukan sebagi akibat dari kesepakatan empat desa adat. Bendesa Adat Purwa Ayu mengatakan bahwa sebelumnya masyarakat kami kehidupannya sangat tergantung dari hutan bukit Bisbis. Dimana pendapatannya mereka dengan mencari kayu bakar dan tanaman pakis dan anggrek jadi tertutup. Untuk itu kami bersama pemerintah dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Karangasem bersama-sama mengajak masyarakat untuk menanam tanaman tuwuh atau kayu-kayu di lahan perkebunan mereka.
Bahwa menjaga kelestarian sumber-sumber alam seperti sumber mata air sebagi kewajiban dari Tuhan. Dalam Menawa Darmasastra IV, 52 dan 56 ada dinyatakan bahwa tidak boleh mengotori sungai. Sloka  tersebut adalah :
Pratyagnim pratisuuryam ca
Pratisomodakan vijaan
Praatigaan prativatamca prajnyaa
Nasyati mehatah
            Artinya :
Kecerdasan orang akan sirna bila kencing menghadapi api, mata air, bulan, kencing dalam air sungai (air yang mengalir) menghadapi Brahmana, sapi, atau arah angin.

2.3              Dampak Implementasi Tri Hita Karana Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
2.3.1        Prahyangan
Konsep Tri Hita Karana merupakan konsep yang sangat baik dan mempunyai makna yang tinggi. Akan tetapi sering konsep ini tidak berjalan dengan baik disebabkan hubungan manusia dengan lingkungannya yang kurang harmonis. Alam akan memberikan hukuman kepada mereka yang menghilangkan sumber produksi alami seperti sawah, kebun, hutan dan sebagainya. Memenuhi segala keinginan yang tidak ada habisnya akan berahir dengan berbagai masalah dan kesedihan. Begitu pula keserakahan  manusia akan membawa mereka pada masalah yang semakin besar. Alam semesta senantiasa adalah proses menuju keseimbangan. Mengingat manusia merupaka bagian dari alam, maka manusiapun sebenarnya menjadikan kesimbangan sebagai suatu cita-cita.
Manusia hanya memikirkan, merencanakan dan melaksanakan berbagai ide dan gagasan dalam rangka peningkatan mutu kehidupan, sedangkan keberhasilannya sangat tergatung dari kehendak Ida Sang Widhi Wasa. Keyakinan umat Hindu ini menempatkan Hyang Widhi sebagai maha penentu kelangsungan dan kesuksesan hidup manusia di dunia. Dengan perkataan lain, Hyang Widhi merupakan sumber daya pembangunan maha penentu bagi keberhasilan manusia di dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

2.3.2        Pawongan
Manusia disamping hidup bersama alam, manusia juga hidup bersama dengan sesamanya di dalam suatu sistem sosial. Sistem sosial tersebut sangat tergantung pada sistem budaya yang dianut oleh suatu masyarakat.
                        Dalam sistem makrokosmos (Bhuana Agung) disebutkan bahwa unsur Tri Hita Karana  itu meliputi jiwa alam (Brahman), manusia yang memiliki sabda, bayu, idep (suara, tenaga dan pikiran) sebagai peggerak atau pengelola alam dan fisik alam selaku  tubuh kasar alam semesta (Bapedalda Bali da Bali Trevel News, 200 : 4).
Pawongan dalam konsep Tri Hita Karana boleh dikatakan merupakan perutnya keharmonisan, yang akan menggerakan dan mengelola kepala dan kaki. Kalau proses dalam perut itu berjalan secara positif maka kepala dan kakinya aka bergerak menuju ke arah positif juga. Kalau kita bawa kepada kehidupan maka apabila manusia sebagai pelaksana hubungan yang harmonis kepada Tuhan dan alam menjalakan hal-hal yang positif maka keharmonisan tersebut akan terwujud. Seperti apa yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat  Purwa Ayu, dimana di dalam mengelola lingkungannya segala kegiatan yang dilaksanakan melalui proses musyawarah dalam paruman desa.

2.3.3        Palemahan
Tri Hita Karana pada hakekatnya adalah sikap hidup yang seimbang antara memuja Hyang Widhi dengan mengabdi pada sesama manusia serta mengembangkan kasih sayang pada alam lingkungan. Hubungkan ini bukan merupakan hal yang terpisah-pisah. Dengan kata lain hubungan itu harus menyatu membentuk sikap hidup dalam konsep Tri Hita Karana.
Berbagai upaya-upaya telah dilakukan yang dilandasi oleh faktor-faktor pendorong untuk menerapkan konsep Tri Hita Karana  dalam pengelolaan lingkungan hidup telah dilaksanakan oleh krama Desa Adat Purwa Ayu. Maka dampak yang dapat diwujudkan diantaranya adalah :
1.      Lingkungan desa menjadi asri
2.      Hutan Bukit Bisbis yang berdiri Pura Lempuyang menjadi hijau.
3.      Bahaya banjir dan tanah logsor sudah tidak menjadi ancaman bagi masyarakat.
4.      Kesehatan warga masyarakat lebih meningkat, seperti yang dikemukan oleh petugas kesehatan yang ada di Desa Tri Buana Bidan Ni Wayan Sri Wati (47) bahwa sebelum kondisi ini pada tahun 1992 Desa Adat Purwa Ayu pernah mengalami wadah muntaber, sejak masyarakat sadar akan kebersihan lingkungannya maka sampai sekarang belum ada wabah, hanya ada penyakit ringan seperti flu, ppilek, batuk-batuk dan penyakit kulit.
5.      Munculnya sumber-sumber  mata air, yang telah dimanfaatkan warga.
6.      Tingkat ekonomi masyarakat meningkat.
Dampak nyata yang telah dihasilkan dari penataan lingkungan di Desa Adat Purwa Ayu yang dilandasi oleh Tri Hita Karana.

























BAB III
PENUTUP

3.1       Simpulan
            Dari uraian penjelas pada BAB III, dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1.      Implementasi Tri Hita Karana dalam pengelolaan Lingkungan pada Desa Adat Purwa Ayu yang telah dilakukan adalah :
a.      Parhyangan ada beberapa bentuk keseimbangan di dalam menjalin hubungan yang harmonis, yang diwijudkan oleh masyarakat Desa Adat Purwa Ayu sebagai wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
b.      Pawongan, bentuk hubungan yang harmonis sesama manusia yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat  Purwa Ayu diantaranya adalah melaksankan peruman, sangkepan-sangkepan, menyusun awig-awig yang mengatur Parhyangan, Pawongan dan Palemahan.
c.       Palemahan, bentuk hubungan yang harmonis dengan alam, yang telah dilaksaakan oleh krama Desa Adat Purwa Ayu dengan melaksanakan pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi sudah mengacu kepada prinsip-prinsip pelestarian yang merupakan unsur esensial dalam pengelolaan lingkungan hidup seperti penagan sampah plastik dan rehabilitasi pada lahan dan bukit Bisbis.
2.      Dampak dari Implementasi Tri Hita Karana
a.      Pada Parhyangan, adanya sanggah, pura yang dalam kondisi yang cukup baik dan kebersihannya terjaga serta penataan lingkungan yang asri, dimana sekitar sanggah dan pura tanaman menunjang pelaksanaan persembahyangan dan keteduhan bagi krama di dalam melaksanakan persembahyangan.
b.      Pada Pawongan, adanya kencendrungan perubahan pada perilaku masyarakat Desa Adat Purwa Ayu, bersama keluarganya untuk menata lingkungan dan keindahannya.
c.       Pada Palemahan, kondisi lingkungan Desa Adat Purwa Ayu menjadi asri, bukit Bisbis menjadi hijau, munculnya hutan-hutan rakyat, kesehatan masyarakat lebih baik, munculnya sumber-sumber mata air dan ekonomi masyarakat menjadi lebih baik.
3.2       Saran
1.         Agar awig-awig dan perarem yang menyangkut pengelolaan  lingkungan dan tetap dipertahankan dan relevan untuk diterapkan pada warganya sepanjang jaman.
2.         Kepala warga masyarakat Desa Adat Purwa Ayu disarankan agar prestasi yang dicapainya dapat dipertahankan.
3.         Komitmen untuk penanganan sampah plastik terus dilaksanakan.
4.         Bagi pihak-pihak yang memilki kewenangan dan kompeten dalam pembinaan Desa Adat,  hendaknya pengalaman-pengalaman yang baik pada Desa Adat  Purwa Ayu dapat ditularkan desa adat yang lainnya, sehingga lingkungan di Kabupaten Karangasem akan menjadi lebih lesatri dan indah.







DAFTAR PUSTAKA



Soemarwoto, Otto, 1989. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pengembangan.
 Bandung : Jambatan

Wiana, I Ketut, 1998. Pelestarian Lingkungan Hidup Menurut Konsep Hindu. Sngaraja :
Jurnal Widya Darma Sastra






0 komentar "Tri Hita Karana (Makalah Lingkungan)", Baca atau Masukkan Komentar